Semua amal perbuatan harus kita tujukan pada Allah semata, janganlah mengharap balasan atau ucapan terima kasih dari orang lain. Karena... itu semua hanya akan membuat hati kita dilanda sedih, jengkel, marah, gelisah, gundah dan tidak tenang. Untuk itu carilah balasan hanya dari Allah, yaitu balasan pahala dan kebaikan.
Senin, 28 Maret 2011
corn craftku 5 - 28 Maret 2011
Masih dengan adonan yang terdahulu, yaitu tepung maizena, lem putih, minyak goreng dan sedikit air. Dengan ketekunan dan mencoba terus menerus, akhirnya sebuah karya yang diinginkan bisa terbentuk sesuai harapan. Waktu pertama kali membuat mawar, kok begitu sulit membentuknya, kelopaknya tak mewakili kelopak mawar. Terlalu tebal, pecah-pecah dan rangkaiannya juga tak beraturan, sehingga tak mirip mawar babar blas. Tapi... setelah beberapa kali mencoba akhirnya jadi juga mawarku. Bisa senyum lebar bibirku, dan yang lebih menyenangkan lagi setelah tahu teknik membuat kelopak yang cantik.. ternyata mudah saja merangkainya. Yah, mencoba.. mencoba dan mencoba lagi dan jangan putus asa, itu inti dari setiap karya yang ingin kita hasilkan.


Selasa, 01 Maret 2011
figure corncraftku
Membuat Figure concraft? gak kebayang tadinya. Mau mulai dari mananya ya yang dibentuk, pasti susah sekali dan pasti butuh ketelitian supaya bener-bener mirip aslinya. Membuat satu figure saja bisa berkali-kali bongkar pasang. Kadang begini, sudah terbentuk badannya dengan bagus, tapi saat kemudian memasang kepalanya jadi kacau, yah.. akhirnya dibongkar lagi... dilumat lagi, dibentuk lagi. Ini terpaksa dilakukan karena hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi dengan mencoba lagi dan mencoba lagi akhirnya satu bentuk bisa dibuat.
Intinya adalah mau mencoba dan telaten saja.



Intinya adalah mau mencoba dan telaten saja.
Kamis, 24 Februari 2011
nyuba bikin garnis
Saat ada di kantor PWP untuk satu kegiatan, sekelebat di ruang lain yaitu ruang kewanitaa, terlihat dari pintu kacanya yang terbuka dan lampunya dinyalakan. Sedang ada kegiatan juga rupanya. Sepertinya menarik nih kegiatan siang ini di ruang kewanitaan. Kata mbak Atun, karyawati yang membantuku menyelesaikan kerjaan surat-menyurat, di kantor sebelah sedang membuat garnis. Wow! bisa ikutan belajar donk, gratis gitu lhoh! Akupun segera beranjak ke ruang sebelah. Disana telah ada beberapa ibu sedang asik duduk mengelilingi meja sambil memotong-motong sayuran. Setelah kudekati, lebih jelas lagi aktivitasnya, dimeja tergeletak beberapa sayuran, ada wortel, timun, kubis, tomat dan apalagi ya, lupa! perkakas juga tergeletak dimeja, beberapa bentuk dan ukuran pisau runcing yang tajam dan telenan. Tapi katanya yang penting ada pisau runcing dan tajam aja udah cukup. Aih, sederhana sekali ya peralatannya, cuma pisau runcing dan tajam.
"Ikutan belajar ya!" kataku, tapi tanganku sudah ikutan memegang pisau dan sayatan wortel tipis.
"Ayo mbak En, dicoba aja mau model apa, ada contohnya kok"
Wah, senang juga ya, ngumpul-ngumpul bermanfaat, dapat pelajaran menarik dan gratis. Kucoba membuat satu bentuk, tapi sebenarnya lebih banyak mengamati saja, karena pisau dan sayatan wortel malah kumain-mainkan. Apalagi setelah itu mbak Atun dari kantor datang dan memberi setumpuk kerjaan lagi. Ah, terpaksa meninggalkan kelas garnis yang mengasikkan, hehehe.. mengasikkan untuk dilihat, karena aku hanya main-main saja.
Beberapa hari kemudian, timbul keinginan membuat garnis di rumah, ada apa ya di kulkas? Ah, lumayan ada wortel, timun, daun bawang... coba ah bikin sendiri. dan inilah garnisku...

"Ikutan belajar ya!" kataku, tapi tanganku sudah ikutan memegang pisau dan sayatan wortel tipis.
"Ayo mbak En, dicoba aja mau model apa, ada contohnya kok"
Wah, senang juga ya, ngumpul-ngumpul bermanfaat, dapat pelajaran menarik dan gratis. Kucoba membuat satu bentuk, tapi sebenarnya lebih banyak mengamati saja, karena pisau dan sayatan wortel malah kumain-mainkan. Apalagi setelah itu mbak Atun dari kantor datang dan memberi setumpuk kerjaan lagi. Ah, terpaksa meninggalkan kelas garnis yang mengasikkan, hehehe.. mengasikkan untuk dilihat, karena aku hanya main-main saja.
Beberapa hari kemudian, timbul keinginan membuat garnis di rumah, ada apa ya di kulkas? Ah, lumayan ada wortel, timun, daun bawang... coba ah bikin sendiri. dan inilah garnisku...
Senin, 07 Februari 2011
yang baru (corn craft)
Minggu, 21 November 2010
hayuk nyoba bikin baju sendiri..

Kain seragam batik sudah diantarkan ke rumah satu setengah bulan dari jadwal pelaksanaan acara, maksudnya supaya kita-kita sudah siap semua dan seragam akan dipakai bersamaan. Namun setiap akan keluar rumah untuk mengantarkan kain ke penjahit, kok ada saja kendala. Ketinggalan dirumah, nggak sempat mengantarkan karena terburu-buru dengan acara lainnya, dan yang pasti kelupaan menjadi kebiasaan wajib. Sampai pada saatnya, acara tinggal menunggu hitungan hari, tinggal tiga hari lagi. Ow ow.. penjahit mana yang mau melayani keinginanku? Putar otak, putar otak. Mau diapakan lembaran kain ini. Bikin sendiri? sempat jadi nggak ya? Ah, harus mencari pola paling gampang, supaya cepat selesai dan pas acara bisa dipakai. Dan inilah Pola paling sederhana, tak perlu mengukur badan... SIAP?
Minggu, 14 November 2010
Pesawat Mirza
Buku kecil berukuran 27 x 12 cm, tebalnya hampir 2 cm. Berisi gambar-gambar dan panduan
tentang mesin pemburu yang super canggih milik angkatan bersenjata, berupa pesawat tempur , helikopter tempur, kapal selam, kapal induk dan peluru-peluru yang besar dari beberapa negara. Amerika, Belanda, Uni Soviet, Jepang, Prancis, Italy dan masih banyak lagi.
Sulungku, walau tak tahu isinya, karena memang belum bisa membaca, karena waktu itu belum sekolah, apalagi buku itu ditulis dalam bahasa Inggris, gimana mau mudeng ya? Tapi, buku itu terus saja dibolak baliknya, setiap hari. Senang betul dia mengamati gambarnya.
Satu ketika saat sulungku sudah masuk TK, si Bapak membelikan mainan kapal perang, tapi harus dirakit dulu. Namanya juga masih TK, minta bantuanlah sama emaknya (aku). Jadilah aku yang mengerjakan sampai selesai dan sulungku menikmati hasil jadinya. Memainkannya di lantai, di meja, di lantai lagi.. hingga lelah, lalu menyimpannya diatas bufet, disamping televisi yang berukuran 17 inchi.
Beranjak usia, saat itu sekitar kelas 4 SD. Entah dari mana asalnya, dia minta dibelikan majalah “ANGKASA”. Majalah yang ditulis dalam bahasa Indonesia, berisi beragam pesawat dan seluk beluk pesawat. Di situ mengulas mesin, pilot, hanggar, managemen, dan masih banyak lagi. Ah, ulasan ini tak dibacanya. Yang disukainya, selain gambar-gambar pesawat, lukisan pesawat dari pembaca yang mengirim ke majalah, ada halaman yang paling disukainya, halaman yang memuat pola dan panduan untuk membuat pesawat.
Setelah dicopy dan dilekatkan di kertas yang agak tebal, polapun digunting sesuai pola.
Tapi dengan ketekunannya, akhirnya pola-pola berhasil digunting, dibentuk sesuai garis lipatan yang terlalu mepet dengan tepi kertas dan disatukan bagian demi bagiannya. Satu pesawatpun telah selesai dibuat. Kemudian diguntingnya pola satunya dan dibuatnya satu pesawat lagi. Kadang memang ada yang gagal karena ukuran bagian-bagian sepertinya tidak cocok saat disambungkan. Tapi tak menyurutkan minatnya untuk membuat pesawat-pesawat yang lain.
Setelah tahu teknik pembuatan, akhirnya ada keinginan untuk membuat pesawat yang lebih besar.
Sepertinya tak puas dengan pesawat yang biasa dijiplaknya, kini dia mulai membuat pola sendiri. Penggaris diletakkan diatas kertas karton, siap mengukur bagian-bagian pesawat yang akan dibuatnya.
Kali ini dibuatnya pola berukuran lebih besar dari pola di majalah “ANGKASA”. Dan akhirnya berhasil dibuatnya. Beberapa karyanya menjadi hiasan, pengisi lemari kacaku.
Langganan:
Postingan (Atom)